Tanpa terasa kita telah meninggalkan tahun 2009 dan memasuki tahun 2010 yang menurut hongshui China yakni tahun Macan. Tentu Tahun baru memunculkan resolusi dan harapan baru. Musim Hujan sudah mulai tiba, walaupun yang terjadi di sumbawa tergolong telat. Di saat belahan Nusantara lain terjadi banjir di mana-mana. Tapi di desa Sebeok hujan masih turun kadang-kadang. Seiring Rinai hujan, bertambah pula usia Nawaz Nurani Naka ( Aya). Tanggal 20 Januari 2010. genap berumur Tujuh ( 7 ) bulan.
Tentu dalam kurun usia enam ( 6) bulan menuju usia tujuh (7 ) bulan,makin banyak kepandaian yang dikuasai Aya. Secara motorik, dia makin lihai dalam Tengkurap kemudian membalik kemudian tengkurap lagi ( berguling-guling ). Hampir disetiap kesempatan bermain, ia selalu berguling- guling sehingga terkadang kalau tidak diawasi , tahu-tahu sudah di bibir kasur hampir jatuh. Hingga mengharuskan kami untuk melakukan tindakan preventif dengan memasang “benteng “ dari bantal disekelilingnya. Ketrampilannya tersebut , menggantikan ketrampilan sebelumnya yakni tidur memutarnya. Selain itu, ada kebiasaan baru yaitu di saat mandi , Aya sudah mulai bermain Air dengan menepuk-nepuk air di “kolam renang-nya”.seperti pepatah “mendulang air tepercik muka sendiri”. Aktivitas tersebut yang bikin dia asyik dan enjoy kalau mandi. Seiring pertumbuhannya, kami mulai membelikan Baby walker untuk melatih syaraf kakinya sebelum belajar berjalan. Di awal perkenalannya dengan baby walker, Aya sempat takut hingga menangis. Tapi dengan sabar kami terus mengenalkan hingga saat ini dia sudah enjoy bermain baby Walker. Ia bahkan sudah bisa menggerakkan walau masih sebatas gerakan mundur . sedikit banyak kegemarannya ini agak “meringankan” beban orang tuanya. Tidak menggendong kemana-mana karena berat badannya makin berat aja. Aktivitas makan juga dijalaninya sambil “mengendarai” baby walkernya. Alhamdulilah , ketrampilan menggenggam barang-barang pun makin fasih. Bahkan HP yang kami taruh di baby walkernya sempat diangkat dan dibanting. Saat ini, aya makin lahap menyantap jatah makannya. Sudah mengerti kalau disuruh buka mulut sendiri dibandingkan saat awal-awal makan yang harus dipaksa buka mulut untuk memasukkan makanan.
Dua buah gigi telah makin kentara menghiasi mulut mungilnya. Ada cerita orang-orang lama , katanya kalau awal tumbuh gigi bisa bikin demam badan namun aya tidak mengalaminya. Namun pada tanggal 13 Januari 2010 ( bareng ama ulang tahun ke 32 HIMAPALA UNESA) kami dikejutkan tiba-tiba Aya mengalami Demam pada siang hari padahal pagi harinya masih asyik main –main dan tidak apa-apa. Sebagai pasangan muda yang kurang pengalaman tentu saja kami sempat kuwatir. Kami periksakan ke dokter teman sekantor ibunya dan diminumin parasetamol. Namun malamnya kami cek dengan thermometer suhu badannya mencapai 40 derajat celcius. Hingga sempat terlintas pikiran kalau pagi hari panasnya tidak turun kami akan membawanya turun ke kota Sumbawa yang notabene masih sekitar 70 Km dari tempat tinggal kami. Alhamdulilah pagi harinya suhu badannya turun dan dia mulai aktif kembali. Namun tgl 16 Januari malam, dia demam kembali disertai bintik-bintik merah pada sekujur badan,tangan dan muka.malah bikin tidak bisa tidur orang tuanya. Bidadari kecilku itu tidurnya gelisah. Sebentar-sebentar bangun. Hingga tiada pilihan lain kecuali ngajak turun ke kota untuk periksa ke dokter spesialis anak.hasil diagnosa dokter menjelaskan bahwa aya terkena penyakit istilah jawanya “gabaken atau damblaken” dan menurut istilah sumbawa yakni “ bal”.Secara psikologis kami juga mulai menyiapkan Aya untuk tidak terlalu bergantung pada ibunya , agar kalau di tinggal kerja tidak rewel. Ia biasa bermain-main sama bapaknya dirumah, bahkan tidurpun di gendongan bapaknya. Ibunya pulang hanya untuk ngasih Asi karena sampai saat ini masih Asi Ekslusif. Walau jarak puskesmas dan rumah dinas hanya “sepelemparan batu”.
Aya bagi kami adalah pelita yang menerangi hidup kami berdua, tawa dan candanya ibarat oase di padang pasir. Tangisnya bagaikan suara Adzan sebagai pengingat untuk selalu bersyukur pada Allah SWT. Maka amatlah miris mendengar banyak bayi di buang orang tuanya bahkan maraknya penculikan anak di kota besar. Memang kenikmatan mengasuh anak baru akan muncul kalau kita menjalananinya dengan tulus dan ikhlas. Semoga kita tetap terus menjadi orang yang tulus dan ikhlas..amiennn









































